Selasa, 10 Desember 2013



TUGAS MANDIRI
Peradaban suku Buton
Mata Kuliah: Pengantar Antropologi


Nama Mahasiswa : Sriwahyuni
NIM                      : 131010032
Kode Kelas           : 131-CM008-M3
Dosen                    : Mellisa Anggraini, SH,MH.


UNIVERSITAS PUTERA BATAM
2013









Kata Pengantar


Puji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya dengan berkat dan karunia-Nya lah, makalah tugas mandiri Antropologi yang berjudul “Peradaban Suku Buton dari Dahulu Hingga Sekarang” ini dapat terselesaikan.
Makalah ini ditulis dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah “Pengantar Antropologi” dan menambah wawasan bahan bacaan tentang “Pengantar Antropologi” serta menambah ilmu yang terdapat dari bahan makalah ini.
Telah diupayakan agar isi makalah ini dapat memenuhi harapan Dosen mata kuliah ‘Pengantar Antropologi” Dengan segala keterbatasan, penulis sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran pembaca, penulis terima demi perbaikan-perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.
Kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyelesaian tugas makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar nya.

                                                                                                                        Penulis,

                                                                                                                   Sriwahyuni










 


Daftar Isi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di zaman yang modern dan serba canggih ini, Sebagian warga Negara Indonesia dengan masyarakat yang multikultural ini, masih sangat asing dengan budaya-budaya lain yang ada di Indonesia. Yang hanya diketahui adalah kebudayaan terhadap individunya masing-masing, bahkan masih ada juga yang kurang pengetahuannya akan kebudayaan nya sendiri. Minimnya pengetahuan warga Negara Indonesia terhadap kebudayaan yang ada di Indonesia juga karena adanya kebudayaan lain yang berkembang di Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman ini. Untuk mengatasi minimnya pengetahuan tentang kebudayaan di Indonesia ini diperlukan kesadaran individu untuk lebih memperhatikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.
Di Indonesia yang pada masa ini masih mempunyai kebudayaan yang multikultural, kebudayaan suku Buton adalah salah satu kebudayaan yang dari dahulu hingga sekarang ada di Indonesia, dan menjadi suatu kebanggan karena Indonesia mempunyai kebudayaan yang satu ini, karena di suku Buton, berbagai macam adat istiadat yang terdapat didalam suku ini, dari mulai keunikan bahasa, sistem religi, hukum, upacara-upacara adat  dan tradisi-tradisi lainnya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan akan kebudayaan suku Buton yang ada di Indonesia, perlu diadakan oleh pemerintah pementasan seni kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, misalnya drama kehidupan suku-suku yang ada di Indonesia, tarian-tarian, dan berbagai tradisi lain yang bisa menggambarkan bagaimana suatu adat kebudayaan tersebut berlangsung di lingkungannya.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, terdapat beberapa rumusan masalah antara lain:
1.     Jelaskan suku Buton itu?
2.     Jelaskan bentuk-bentuk Kebudayaan yang terdapat di suku Buton?
3.     Jelaskan aspek-aspek kehidupan yang terdapat di suku Buton itu?

1.3. Tujuan

1.        Untuk mengetahui bagaimana kebudayaan Suku Buton itu
2.     Untuk mengetahui Kebudayaan yang terdapat di suku Buton
3.     Untuk mengetahui aspek-aspek kehidupan yang terdapat di suku Buton itu.

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.Sejarah Awal

Kraton Buton di tahun 1910-1940
Kesultanan Buton terletak di Kepulauan Buton (Kepulauan Sulawesi Tenggara) Provinsi Sulawesi tenggara, di bagian tenggara Pulau Sulawesi . Pada zaman dahulu memiliki kerajaan sendiri yang bernama kerajaan Buton dan berubah menjadi bentuk kesultanan yang dikenal dengan nama Kesultanan Buton. Nama Pulau Buton dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit, Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa, menyebut nama Pulau Buton.
      Sejarah yang pada umumnya, bahwa Kerajaan di Sulawesi adalah kerajaan yang pertama menerima agama islam yang dibawa oleh Datuk Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau pada tahun 1605 M. Sebenarnya Sayid  Jamaluddin al-kubra adalah orang yang pertama kali sampai di pulau Buton, sekitar tahun 815 H/1412. Sayid Jamaluddin al-kubra merupakan seorang ulama yang di undang oleh raja Mulae Sangia i-Gola dan baginda Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang dikatakan datang dari Johor. Ia telah berhasil mengislamkan Raja Buton yang ke-6 pada tahun 948 H/1538 M.
      Pada masa yang sama dengan datangnya Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani, salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Buton telah didapati penduduknya beragama islam. Selain pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Johor, ada pula pendapat yang menyebut bahwa Islam datang di Buton berasal dari Ternate.
      Orang-orang melayu dari berbagai daerah dipercayai telah lama sampai ke berbagai daerah di Pulau Buton. Walaupun Bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton adalah bahasa Walio, pada saat yang sama digunakan juga Bahasa Melayu, umumnya bahasa melayu yang digunakan di Malaka, Johor dan Patani. Sudah sejak lama orang-orang Buton merantau keseluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu yang hanya bisa memuat lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat beban sekitar 150 Ton.

A. Suku Buton

Suku Buton adalah suku pelaut, Seperti suku-suku kebanyakan di Sulawesi. Sejak lama orang-orang Buton merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu yang dari berukuran kecil dan hanya dapat memuat lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Pada umumnya, orang-orang Buton adalah masyarakat yang tinggal di wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Dan pada saat ini daerah-daerah itu telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara yang diantaranya adalah Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Muna. Namun, masyarakat Muna lebih senang menyebut mereka sebagai orang Muna dibandingkan orang Buton.
Selain masyarakat Buton merupakan masyarakat pelaut, jauh sejak zaman dahulu masyarakat Buton juga sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam oleh masyarakat Buton ini antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala keperluan hidup mereka sehari-hari. Orang Buton terkenal juga dengan peradabannya yang tinggi dan sampai saat ini peninggalan-peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya adalah Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, juga Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri dengan kokohnya setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi.

B. Raja Buton Masuk Islam

Resminya kerajaan Buton menjadi suatu kerajaan islam pada saat pemerintahan Raja Buton yang ke -6, yaitu Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo. Dia lah raja yang diislamkan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani yang datang dari Johor. Dalam sejarahnya, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum tiba di Johor ia pernah tinggal di Johor,dan seterusnya pindah ke Andora (Nusa Tenggara Timur) bersama istrinya. Kemudian berhijrah pula mereka sekeluarga ke Pulau Batu atas yang masih dalam pemerintahan Buton.
Imam Pasai yang baru kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh) bertemu dengan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman di Pulau Batu atas, Buton. Imam Pasai menganjurkan agar Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani untuk bertemu dengan Raja Buton.
Syeikh Abdul Wahid menyetujui anjuran Imam Pasai tersebut. Dan setelah Raja Buton memeluk agama Islam, Baginda langsung ditabalkan menjadi Sultan Buton oleh Syeikh Abdul Wahid sekitar tahun 948 H/1538 M.





Sultan Buton ke 38, Muhamad Falihi Kaimuddin bersama Presiden RI Pertama Soekarno

Sumber lain mengatakan bahwa Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani merantau dari Patani-Johor ke Buton sekitar tahun 1564 M, masih diperdebatkan mengenai tahun tersebut. Yang dianggap Sultan Pertama adalah Sultan Halu Oleo yang bergelar Sultan Ulil Amri dan memiliki gelar khusus yaitu Sultan Qaimuddin, arti dari gelar itu adalah Kuasa Pendiri Agama Islam.
Dalam sejarah lain dikatakan bahwa bukan Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani melantik Sultan Buton yang memeluk islam pertama kali, tetapi guru beliau yang sengaja didatangkan dari Patani. Sultan Murhum adalah nama Raja Halu Oleo setelah ditabalkan menjadi Sultan Kerajaan Buton Islam yang pertama.
Saat diadakan Simposium Pernaskahan Nusantara Internasional IV, 18 - 20 Julai 2000 di Pekan Baru, Riau, salah satu kertas kerja membicarakan beberapa aspek tentang Buton, yang dibentang oleh La Niampe, yang berasal dari Buton. Hasil wawancara saya kepadanya adalah sebagai berikut:
Syeikh Abdul Wahid pertama kali sampai di Buton pada tahun 933 H/1526 M.
Syeikh Abdul Wahid sampai ke Buton kali kedua pada tahun 948 H/1541 M.
Datangnya Syeikh Abdul Wahid kedua kalinya di Buton sekitar tahun 948 H/1541 M bersama guru beliau yang bergelar Imam Fathani. Saat itulah terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama.
Maklumat lain, kertas kerja Susanto Zuhdi berjudul Kabanti Kanturuna Mohelana Sebagai Sumber Sejarah Buton, menyebut bahawa Sultan Murhum, Sultan Buton yang pertama memerintah dalam lingkungan tahun 1491 M - 1537 M. Menurut Maia Papara Putra dalam bukunya, Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki Dalam Lembaga Kitabullah, bahawa ``Kesultanan Buton menegakkan syariat Islam ialah tahun 1538 Miladiyah.
Jika kita bandingkan tahun yang saya sebutkan (1564 M), dengan tahun yang disebutkan oleh La Niampe (948 H/1541 M) dan tahun yang disebutkan oleh Susanto Zuhdi (1537 M), berarti dalam tahun 948 H/1541 M dan tahun 1564 M, Sultan Murhum tidak menjadi Sultan Buton lagi karena masa beliau telah berakhir pada tahun 1537 M. Setelah meninjau pelbagai aspek, nampaknya kedatangan Syeikh Abdul Wahid di Buton dua kali (tahun 933 H/1526 M dan tahun 948 H/1541 M) yang diberikan oleh La Niampe adalah lebih meyakinkan.
Yang menarik pula untuk dibahas ialah keterangan La Niampe yang menyebut bahawa ``Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua kali di Buton pada tahun 948 H/1541 M itu bersama Imam Fathani mengislamkan lingkungan Istana Buton, sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton yang pertama. Apa sebab Sultan Buton yang pertama itu dilantik/dinobatkan oleh Imam Fathani? Dan apa pula sebabnya sehingga Sultan Buton yang pertama itu bernama Sultan Murhum, sedangkan di Patani terdapat satu kampung bernama Kampung Parit Murhum.
Kampung Parit Murhum berdekatan dengan Kerisik, iaitu pusat seluruh aktivitas Kesultanan Fathani Darus Salam pada zaman dahulu. Semua yang tersebut itu sukar untuk dijawab. Apakah semuanya ini secara kebetulan saja atau pun memang telah terjalin sejarah antara Patani dan Buton sejak lama, yang memang belum diketahui oleh para penyelidik.
Namun walau bagaimanapun jauh sebelum ini telah ada orang yang menulis bahwa ada hubungan antara Patani dengan Ternate. Dan cukup terkenal legenda bahawa orang Buton sembahyang Jumaat di Ternate tidak diabaikan.
Semua perundangan ditulis dalam bahasa Walio menggunakan huruf Arab, yang dinamakan Buru Wolio seperti kerajaan-kerajaan Melayu menggunakan bahasa Melayu tulisan Melayu/Jawi. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk perundangan, juga digunakan dalam penulisan salasilah kesultanan, naskhah-naskhah dan lain-lain. Tulisan tersebut mulai tidak berfungsi lagi menjelang kemerdekaan.
Jika kita bandingkan dengan semua sistem pemerintahan, sama ada yang bercorak Islam maupun sekular, terdapat perbedaan yang sangat kental dengan pemerintahan Islam Buton. Kerajaan Islam Buton berdasarkan Martabat Tujuh. Daripada kenyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kerajaan Islam Buton lebih mengutamakan ajaran tasawuf daripada ajaran yang bercorak zahiri. Namun demikian ajaran syariat
Indonesia 1945.
Bangsawan Buton

 

C.Pemerintahan

Kerajaan Buton berdiri tahun 1332 M. Awal pemerintahan dipimpin seorang perempuan bergelar Ratu Wa Kaa Kaa. Kemudian raja kedua pun perempuan yaitu Ratu Bulawambona. Setelah dua raja perempuan, dilanjutkan Raja Bataraguru, Raja Tuarade, Raja Rajamulae, dan terakhir Raja Murhum. Ketika Buton memeluk agama Islam, maka Raja Murhum bergelar Sultan Murhum.
Kerajaan Buton didirikan atas kesepakatan tiga kelompok atau rombongan yang datang secara bergelombang. Gelombang pertama berasal dari kerajaan Sriwijaya. Kelompok berikutnya berasal dari Kekaisaran Cina dan menetap di Buton. Kelompok ketiga berasal dari Kerajaan Majapahit.
Sistem kekuasaan di Buton ini bisa dibilang menarik karena konsep kekuasaannya tidak serupa dengan konsep kekuasaan di kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Struktur kekuasaan kesultanan ditopang dua golongan bangsawan: golongan Kaomu dan Walaka. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun yang menjadi sultan harus dari golongan Kaomu. Jadi bisa dikatakan kalau seorang raja dipilih bukan berdasarkan keturunan, tetapi berdasarkan pilihan di antara yang terbaik.
Kelompok Walaka yang merupakan keturunan dari Si Panjonga memiliki tugas untuk mengumpulkan bibit-bibit unggul untuk dilatih dan dididik sedemikian rupa sehingga para calon raja memiliki bekal yang cukup ketika berkuasa nanti.
Berdasarkan penelitian, Ratu Waa Kaa Kaa adalah proyek percobaan pertama kelompok Walaka ini Selain sistem pemilihan raja yang unik, sistem pemerintahannya juga bisa dikatakan lebih maju dari jamannya. Sistem pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton dibagi dalam tiga bentuk kekuasaan. Sara Pangka sebagai lembaga eksekutif, Sara Gau sebagai lembaga legislatif, dan Sara Bhitara sebagai lembaga yudikatif.
Beberapa ahli berani melakukan klaim kalau sistem ini sudah muncul seratus tahun sebelum Montesquieu mencetuskan konsep trias politica Peraturan hukum diterapkan tanpa diskriminasi, berlaku sama bagi rakyat jelata hingga sultan. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya diganjar hukuman karena melanggar sumpah jabatan.
Dan hukumannya termasuk hukuman mati majelis rakyat Kesultanan Buton adalah lambang demokrasi Kesultanan Buton. di sini dirumuskan berbagai program kesultanan dan juga tempat untuk melaksanakan proses pemilihan sultan berdasarkan aspirasi masyarakat Buton.
Pembagian kelompok di majelis yang diatur dalam UU yang disebut Tutura ini adalah sebagai berikut:
Eksekutif = Sara Pangka
Legislatif = Sara Gau
Yudikatif = Sara Bitara
Ada 114 anggota majelis Sara buton yang terdiri dari 3 fraksi
Fraksi rakyat = Beranggotakan 30 menteri/bonto ditambah 2 menteri besar yang juga mewakili pemukiman-pemukiman di wilayah Buton.
Fraksi pemerintahan = Pangka, Bobato, lakina Kadie yang mewakili pemerintahan.
Fraksi Agama = Diwakili oleh pejabat lingkungan sarakidina/sarana hukumu yang berkonsentrasi di masjid agung kesultanan Buton.

D.Politik

Masa pemerintahan Kerajaan Buton mengalami kemajuan terutama bidang Politik Pemerintahan dengan bertambah luasnya wilayah kerajaan serta mulai menjalin hubungan Politik dengan Kerajaan Majapahit, Luwu, Konawe, dan Muna.
Demikian juga bidang ekonomi mulai diberlakukan alat tukar dengan menggunakan uang yang disebut Kampua (terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang kemudian ditenun secara tradisional menjadi kain).
Memasuki masa Pemerintahan Kesultanan juga terjadi perkembangan diberbagai aspek kehidupan antara lain bidang politik dan pemerintahan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton yaitu “Murtabat Tujuh” yang di dalamnya mengatur fungsi, tugas dan kedudukan perangkat kesultanan dalam melaksanakan pemerintahan serta ditetapkannya Sistem Desentralisasi (otonomi daerah) dengan membentuk 72 Kadie (Wilayah Kecil).

E. Masyarakat

Masyarakat Buton terdiri dari berbagai suku bangsa. Mereka mampu mengambil nilai-nilai yang menurut mereka baik untuk diformulasikan menjadi sebuah adat baru yang dilaksanakan di dalam pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton itu sendiri. Berbagai kelompok adat dan suku bangsa diakui di dalam masyarakat Buton. Berbagai kebudayaan tersebut diinkorporasikan ke dalam budaya mereka.
Kelompok yang berasal dari Tiongkok diakui dalam adat mereka. Kelompok yang berasal dari Jawa juga diakui oleh masyarakat Buton. Di sana terdapat Desa Majapahit, dan dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa para penghuni desa tersebut memang berasal dari Majapahit. Mereka sampai di sana karena perdagangan rempah-rempah. Dengan membuat pemukiman di sana, mereka dapat mempermudah akses dalam memperolah dan memperdagangkan rempah-rempah ke pulau Jawa.
Beberapa peninggalan mereka adalah berupa gamelan yang sangat mirip dengan gamelan yang terdapat di Jawa.
Imam-imam yang menjabat di dalam dewan agama juga dipercaya merupakan keturunan Arab. Mereka dengan pengetahuan agamanya diterima oleh masyarakat Buton dan dipercaya sebagai pemimpin di dalam bidang agama. Berbagai suku dan adat tersebut mampu bersatu secara baik di dalam kerajaan/kesultanan Buton. Apabila kita melihat kerajaan/kesultanan lain, perbedaan itu seringkali memunculkan konflik yang berujung kepada perang saudara, bahkan perang agama.
Sedangkan di Buton sendiri tercatat tidak pernah terjadi perang antara satu kelompok dengan kelompok lain, terutama bila menyangkut masalah suku dan agama.
Dapat dikatakan bahwa seluruh golongan di buton merupakan pendatang. Mereka menerapkan sistem yang berdasarkan musyawarah. Para perumus sistem kekuasaan atau sistem adat di Buton juga berasal dari berbagai kelompok suku dan agama. Ada yang berasal dari semenanjung Malaysia, Si Tamanajo yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung.
Ada pula yang berasal dari Jawa yaitu Sri Batara dan Raden Jutubun yang merupakan putra dari Jayanegara.
Seluruh golongan tersebut berasal dari kerajaan yang otoriter dan menerapkan sistem putera mahkota. Hampir semua peralihan kekuasaan tersebut dilakukan dengan kudeta.
Di kerajaan Buton hal tersebut tidak pernah terjadi. Asumsinya, berdasarkan pengalaman pahit dalam jatuh-bangunnya pemerintahan tersebut, maka mereka yang berkumpul di tanah Buton tersebut merumuskan suatu sistem yang mampu melakukan peralihan kekuasaan tanpa harus melalui pahitnya kudeta maupun perang saudara.
Mereka berkumpul di tanah Buton sejak Gajah Mada mengumumkan sumpah palapa-nya. Pada masa itu Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Begitu juga Kerajaan Singosari. Seluruh raja-raja dan panglima yang tidak takluk pada Kerajaan Majapahit akan dijadikan budak. Pilihan mereka adalah dengan melarikan diri menuju tempat yang aman. Pulau Buton menjadi salah satu lokasi dimana beberapa pelarian tersebut singgah dan menetap.

F. Perekonomian

      Wilayah kerajaan/kesultanan Buton sangat strategis. Pedagang dari India, Arab, Eropa maupun Cina lebih memilih untuk melalui jalur selatan Kalimantan untuk mencapai kepulauan rempah-rempah di Maluku. Bila melalui Utara Sulawesi dan selatan kepulauan Filipina, para pedagang akan berhadapan dengan bajak laut yang banyak berkeliaran di sana. Selain itu, angin di selatan Kalimantan lebih kencang daripada di sebelah utara Sulawesi. Masyarakat Buton telah menggunakan alat tukar uang yang disebut Kampua.         Kampua Sehelai kain tenun dengan ukuran 17,5 kali 8 sentimeter. Pajak juga telah diterapkan di negeri ini. Tunggu Weti sebagai penagih pajak di daerah kecil ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena disamping sebagai penanggung jawab dalam pengurusan pajak dan keuangan juga mempunyai tugas khusus selaku kepala siolimbona (saat ini hampir sama dengan ketua lembaga legislatif).

G.Hukum

Hukum dijalankan sangat tegas dengan tidak membedakan baik aparat pemerintahan maupun masyarakat umum. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton, 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu di antaranya yaitu Sultan ke - VIII Mardan Ali, diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali sampai meninggal yang dalam Bahasa Wolio dikenal dengan istilah digogoli.

H.Bahasa

Etnik/Suku Buton sebutan bagi masyarakat yang berasal dari Kerajaan dan Kesultanan Buton, memiliki sejumlah bahasa yang berbeda tiap wilayah. Secara umum, setidaknya ada 4 bahasa yg digunakan oleh 4 kelompok/etnik masyarakat yakni Bahasa Pancana, Bahasa Cia-Cia, Bahasa Pulo (Wakatobi), dan Bahasa Moronene.
Selain 4 bahasa tersebut masih terdapat pula beberapa bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat yang lebih kecil, seperti bahasa Laompo/Batauga, Bahasa Barangka/Kapontori, Bahasa Wabula, Bahasa Lasalimu, Bahasa Kolencusu, Bahasa Katobengke dan sebagai bahasa pemersatu digunakan Bahasa Wolio. Bahasa Wolio ini merupakan bahasa resmi kesultanan.

I. Pertahanan

Bidang Pertahanan Keamanan ditetapkannya Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan falsafah perjuangan yaitu :
“Yinda Yindamo Arata somanamo Karo” (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
“Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu” (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
“Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara” (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
“Yinda Yindamo Sara somanamo Agama” (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
Disamping itu juga dibentuk sistem pertahanan berlapis yaitu empat Barata (Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa), empat matana sorumba (Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka) serta empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan).
Selain bentuk pertahanan tersebut maka oleh pemerintah kesultanan, juga mulai membangun benteng dan kubu–kubu pertahanan dalam rangka melindungi keutuhan masyarakat dan pemerintah dari segala gangguan dan ancaman. Kejayaan masa Kerajaan/Kesultanan Buton (sejak berdiri tahun 1332 dan berakhir tahun 1960) berlangsung ± 600 tahun lamanya telah banyak meninggalkan warisan masa lalu yang sangat gemilang, sampai saat ini masih dapat kita saksikan berupa peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi.        Wilayah bekas Kesultanan Buton telah berdiri beberapa daerah kabupaten dan kota yaitu : Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Konawe Kepulauan, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara, dan Kota Bau-Bau.


 

2. Warga Buton yang Masih Mempertahankan Kebudayaannya

      Yang masih kuat mempertahankan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyang nya adalah masyarakat yang tinggal di wilayah Desa Wabula, Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Tradisi yang sampai saat ini masih berlangsung disana adalah pesta pidoaano kuri. Pesta ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Sang Pecipta, pelaksanaan pesta ini biasanya dilakukan dua kali dalam setahun.
      Arti pidoaano kuri ini adalah pembacaan doa untuk keselamatan hidup. Ritual budaya pidoaano kuri ini digelar oleh masyarakat Wabula pada saat bulan ketiga dan bulan ketujuh. Tradisi tersebut dikaitkan dengan musim panas dan musim panen. Ketika budaya tersebut digelar, tidak hanya masyarakat setempat saja yang merayaknnya, bahkan masyarakat Wabula di rantauan pun menyempatkan diri untuk pulang dan merayakannya bersama.
Para sesepuh warga Desa Wabula kab. Buton dengan mengenakan pakaian adat daerah setempat.
Walaupun tempat perantauan mereka sangat jauh, masyarakat Wabula tetap pulang kampung untuk menyempatkan perayaan pesta piodaano kuri ini. Seluruh masyarakat Wabula ini memanjatkan syukur kepada sang pencipta. Hingga saat ini tradisi tersebut masih berlangsung secara turun temurun.
Selain itu, kebudayaan pidoaano kuri ini juga dikatakan sebagai ajang silaturahmi. Karena ketika pesta tersebut berlangsung, masyarakat Wabula berkumpul dan termasuk disitu warga perantauan datang untuk meramaikan acara tersebut. Artinya silaturahmi tersebut tidak hanya warga Wabula saja yang berku,pul  di Desa, tetapi juga warga yang berada diluar kota.
Biasanya pesta ini berlangsung hingga tiga hari tiga malam. Dalam sejarahnya, warga Wabula tidak akan tidur selama pesta berlangsung. Mereka akan terus berdoa memanjatkan rasa syukur. Dan pada acara ini akan diselang acara tarian-tarian adat dan makan besar.
Penampilan tarian-tarian adat ini adalah untuk tetap menjaga kebudayaan warga Wabula agar tidak punah. Kaum pria, wanita, tua muda punya bagian masing-masing. Dalam penyambutan tamu, akan digelar tarian bure. Tarian bure dilakukan oleh beberapa tokoh adat. Tarian ini digelar untuk mengirngi tamu tiba di galempa (balai pertemuan).
Pada acara pidoaano kuri ini banyak tarian yang ditampilkan. Tarian linda adalah tarian yang biasa ditampilkan oleh para perempuan. Sementara masyarakat umum, dipuncak acara menampilkan tarian caca.
Tarian cungka adalah tarian yang akan dipersembahkan oleh para tokoh adat. Secara umum, tarian khas masyarakat Wabula memiliki gerakan yang sangat sederhana dan lugas. Dan mempunyai makna masyarakat Wabula yang sangat ramah.
        Sebelum berbagai tarian ditampilkan di galampa, masyarakat Wabula sudah terbiasa menghidangkan aneka makanan khas kepada para tamu. Bahkan hidangan makanan yang diberikan kepada tamu (per orangnya) cukup banyak. Mulai dari nasi lengkap dengan lauk pauknya, hingga buah-buahan dan aneka cemilan.
Lagamii menjelaskan, aneka makanan itu dibuat oleh warga Wabula secara bergotong royong dan tanpa perintah lagi. Artinya jika mendengar ada tamu yang akan berkunjung, masing-masing warga biasanya memberikan sumbangan aneka makanan. Tamu dan warga yang berkumpul di galampa mendapat porsi yang sama. Setelah memanjatkan doa yang dipimpin tokoh adat, maka acara makan besar pun dimulai.
Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun, S.H. bertekad akan terus melindungi dan memelihara budaya yang ada di masing-masing desa. Satu wilayah dengan wilayahnya, sudah pasti ada perbedaan budaya, tapi biarkan semuanya berkembang dan bisa dikenal secara luas, sekaligus dapat diandalkan jadi daya tarik wisata Buton.
Suku di Buton itu macam-macam. Sudah pasti budayanya berbeda. Dari bahasa saja sudah terlihat tidak sama, walau asli penduduk Buton. Itu uniknya Buton. Hanya, perbedaan-perbedaan itu tidak membuat masyarakat Buton terpecah. Semangat gotong royong dan silaturahmi warga Buton masih sangat kuat. Warga Buton juga sangat ramah kepada pendatang atau tamu.
Selain mengandalkan seni budayanya, Kab. Buton masih punya daya tarik untuk para wisatawan. Hutan dan gunung di Buton yang masih perawan, selama ini sering menjadi objek wisata ilmiah. Banyak peneliti dari luar negeri yang melakukan survei ke sana. Demikian juga dengan wisata bahari, Buton memiliki garis pantai yang panjang, dan pasir putinya yang masih bersih. Kuliner khas daerah Buton juga cukup mengundang selera.
 Sementara untuk kerajinan, barang yang cukup dikenal di Buton, yakni kain tenun dan mutiara kerang mabe.
Ke depan, bisa juga dikembangkan wisata wilayah penambangan. Selama ini banyak juga wisatawan yang berkunjung ke Buton penasaran dengan lokasi penambangan aspal, nikel, batu kapur, hingga emas.
3. Tradisi-Tradisi Masyarakat Buton
a. Pakande-Kandea
      Pakande-kandea adalah salah satu acara tradisional dalam rangka mensyukuri nikmat anugrah yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa selama setahun dan berharap tahun depan dapat lebih baik lagi. Acara ini biasa dilaksanakan setelah idul fitri atau pembukaan tahun.
      Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyiapkan talam yang berisi makanan tradisional. Disinilah gadis remaja dengan menggunakan busana tradisional duduk menghadapi talang masing-masing dan selanjutnya menunggu dua orang pelaksana mengucapkan wore sebagai tanda acara telah dimulai.
b.Posuo
      Posuo (pingitan) adalah prosesi yang dilakukan selama 8 hari 8 malam bagi gadis remaja yang telah aqil baligh dalam rangka menyongsong masa berumah tangga dengan dipandu oleh seorang bhisa (guru). Kegiatan ini bertujuan untuk mengajarkan kepribadian, pembentukan akhlak , etika serta hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Bagi gadis remaja yang telah dipingit atau keluar dari ruangan maka resmilah disebut “kalambe” atau wanita yang telah dewasa.
c.Dole-Dole
      Dole-dole meruakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat buton atas lahirnya seorang anal. Menurut kepercayaan orang buton, anak yang telah didole-dole akan terhindar dari segala macam penyakit. Prosesi dole-dole sendiri adalah sang anak diletakkan di atas nyiru yang dialas dengan daun pisang yang diberi minyak kelapa. Selanjutnya anak tersebut digulingkan diatasnya seluruh badan anak tersebut berminyak. Biasanya dilakukan pada bulan rajab, syaban dan setelah Lebaran sebagai waktu yang dianggap baik.

 

4. Kabupaten Buton

Kabupaten Buton memiliki sungai-sungai: Sungai Sampolawa di Kecamatan Sampolawa, Sungai Winto dan Tondo di Kecamatan Pasar Wajo, Sungai Malaoge, Tokulo dan Sungai Wolowa di Kecamatan Lasalimu. Dari sudut oceanografi memiliki perairan laut yang masih luas, yaitu diperkirakan sekitar 21.054.69 km2 setelah berpisah dengan Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Bombana.
Wilayah perairan tersebut sangat potensial untuk pengembangan usaha perikanan dan pengembangan wisata bahari, karena disamping hasil ikan dan hasil laut lainnya, juga memiliki panorama laut yang sangat indah yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
Bunus Wolio artinya Rumah adat Buton, yang mempunyai nama berbeda menurut status penghuni dalam status sosial kemasyarakatan.
Rumah adat Buton tersebut terbagi menjadi: Kamali atau Malige untuk tempat tinggal Sultan, Rumah pejabat. kesultanan, dan Rumah untuk masyarakat umum.

5. Basilika Pulau Liwu Tongkidi

Basilika Pulau Liwu Tongkidi merupakan pulau kecil seluas 1.000 km, dengan iklim tropis dan rata-rata curah hujan 2.000 mm/tahun, Pulau ini termasuk dalam kawasan pengembangan Terpadu BASIUKA (Batauga.
Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua) di Kabupaten Buton. Pulau kecil dikelilingi pasir putih ini memiliki kekayaan bawah laut berupa keanekaragaman terumbu karang dan biota laut yang masih dalam kondisi terjaga dari campur tangan manusia. Pulau ini mudah dijangkau dari Pelabuhan Bau Bau, kurang lebih 15 menit dengan speed boat.
      Kawasan BASILIKA (Pantai Batauga, Siompu, Liwutongkidi dan Kadatua) memiliki gugusan terumbu karang dan keragaman biodiversity yang terhampar di gugusan pulau-pulau tersebut termasuk Pulau Batu Atas dan Pulau Kawi-Kawia.
Kepulauan Basilika saat ini menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Buton dengan beberapa perkembangan anrara lain: pertama kondisi terumbu karangnya relatif masih baik dan serupa dengan struktur terumbu karang Wakatobi dan Taka Bonerate yang bersebelahan dengana kawasan ini; kedua Basilika menjadi pilihan lokasi selam bagi Divers selain tujuan selam di Sulsel (Taka Bonerate), Wakatobi ataupun Bunaken.
Operation Wallacea telah mengembangkan Hutan Lindung Lambusango dan Kakenauwe  sebagai kawasan ecoturism yang berbasis ilmu pengetahuan dan konservasi, kawasan ini kaya akan keanekaragaman dan keaslian flora dan fauna dan sangat ideal bagi aktivitas petualangan seperti trekking, bird watching, camping dan lain-lain. Setiap tahunnya, ratusan mahasiswa mancanegara melakukan program penelitian di kawasan ini.

6. Keraton Buton

Berebut mata uang, Salah satu daya tarik wisata di Buton adalah demonstrasi penyelaman coin atau barang apa saja oleh bocah-bocah setempat. Para bocah ketika memperebutkan coin di kolam pelabuhan Murhum Baubau, disaksikan puluhan ribu masyarakat Buton sendiri. Bila Anda sebagai seorang turis berkunjung ke Baubau, ibu kota Kabupaten Buton, jangan lupa mengantungi uang recehan (coin) secukupnya. Sebab di kolam pelabuhan Murhum Baubau, Anda pasti diminta melemparkan sesuatu oleh kawanan bocah yang sedang bermain-main di perairan kolam pelabuhan tersebut. Biasanya, orang memang melemparkan uang recehan lalu diperebutkan para bocah itu. Permainan memperebutkan coin atau barang apa saja, semula hanya bisa dilihat di perairan Desa Baruta, Kabupaten Buton. Celah agak sempit yang memisahkan daratan Pulau Muna dan Pulau Buton itu adalah alur pelayaran lokal yang menghubungkan kota Baubau, Raha, dan Kendari sebagai ibu kota Propinsi Sultra. Pemandangan dunia anak-anak desa yang lugu dan lucu akan segera muncul setelah satu jam pelayaran dari Baubau menunju Raha, ibu kota Kabupaten Muna, atau sebaliknya menjelang satu jam sebelum kapal yang ditumpangi merapat di dermaga pelabuhan Murhum Baubau.  
Di alur sempit itu setiap kapal yang lewat dihadang puluhan sampan kecil yang dijalankan bocah- bocah berumur di bawah 10 tahun. Mereka berlompatan ke laut sambil berteriak kepada penumpang kapal agar melemparkan apa saja, untuk diperebutkan melalui ketangkasan menyelam ke bawah permukaan laut.
      Mereka berpakaian setengah telanjang. Bahkan ada yang tak berbusana sama sekali sehingga “burung” mereka tampak bergelantungan ketika berlompatan menukik ke bawah permukaan laut, untuk mendapatkan benda apa saja yang dilemparkan dari atas kapal.
      Benda sekecil kelereng pun tak lolos dari tangan mereka karena kemahiran menyelam. Setiap kali mendapatkan benda itu, mereka perlihatkan kepada para penumpang sambil berteriak kegirangan, lalu minta lagi untuk dilemparkan barang apa saja. Sementara kapal terus melaju meninggalkan anak-anak tersebut.
Kini permainan anak-anak itu dapat juga disaksikan di kolam pelabuhan Baubau. Yaitu pada setiap kedatangan kapal penumpang milik Pelni di pelabuhan tersebut sebanyak 2-3 kali seminggu, dan pada setiap penyelenggaraan Festival Keraton Buton (Buton Palace Festival). Festival itu diprakarsai Bupati Buton Kolonel (Czi) Saidoe dan digelar secara rutin setiap tanggal 12-13 September.
 BUTON dan kota Baubau khususnya menyimpan banyak pesona wisata. Selain wisata bahari, termasuk produk budaya bahari seperti penyelaman coin dan aneka tarian bernuansa laut, di sebuah bukit yang terletak 3 km selatan kota berdiri kukuh benteng keraton yang menjadi simbol kekuasaan Kesultanan Buton di masa lampau.
Banyak obyek menarik di dalam benteng Keraton Wolio itu. Di sana ada batu Wolio, batu popaua, masjid agung, makam Kaimuddin (Sultan Buton pertama), Istana Badia, dan meriam-meriam kuno.
      Batu Wolio adalah sebuah batu biasa berwarna gelap. Besarnya kurang lebih sama dengan seekor lembu sedang duduk berkubang. Konon, di sekitar batu inilah rakyat setempat menemukan seorang putri jelita bernama Wakaa-Kaa yang dikatakan berasal dari Tiongkok.
      Putri itu kemudian dijadikan pimpinan (ratu). Pelantikan raja tersebut dilakukan di atas batu popaua. Batu ini terletak sekitar 200 meter dari batu Wolio. Permukaan batu popaua hampir rata dengan tanah, namun mempunyai lekukan berukuran hampir sama dengan telapak kaki manusia. Di lekukan itulah putri Wakaa-kaa menginjakkan kaki kanannya sambil mengucapkan sumpah jabatan sebagai ratu di bawah payung yang diputar sebanyak tujuh kali.
      Karena itu batu tersebut disebut batu popaua (batu tempat diputarkan payung raja). Tradisi pelantikan ratu atau raja di atas batu tersebut berjalan hingga di zaman kesultanan, bentuk pemerintahan kerajaan Buton setelah masuknya Islam.
      Batu popaua terletak di kaki sebuah bukit kecil tempat berdirinya Masjid Agung Keraton Buton. Masjid ini dibangun tahun 1712 di masa pemerintahan Sultan Buton XIX bernama Lang Kariri dengan gelar Sultan Sakiuddin Darul Alam.
      Masjid berukuran 21 kali 22 meter itu memiliki tiang bendera di sisi sebelah timur. Dalam tafsir Al Azhar karangan almarhum Buya Hamka disebutkan, tiang bendera itu juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung menurut hukum Islam.
      Tetapi ada sedikit bau mistik di dalam masjid tua itu. Di belakang mimbar khatib atau di ujung kepala imam tatkala dalam keadaan sujud terdapat pintu gua yang disebut “pusena tanah” (pusat bumi) oleh orang-orang tua di Buton. Konon dari dalam gua itu keluar suara azan pada suatu hari Jumat. Peristiwa itu menjadi latar belakang pendirian masjid di tempat tersebut.
      Ketika masjid itu direhabilitasi pada tahun 1930-an, pintu gua tadi ditutup dengan semen sehingga ukurannya lebih kecil menjadi sebesar bola kaki. Lubangnya diberi penutup dari papan yang bisa dibuka oleh siapa yang ingin melihat pintu gua itu.
      Di salah sebuah kamar Kamali (istana) Badia, masih di kompleks keraton, terdapat meriam bermoncong naga. Menurut Drs H La Ode Manarfa (79), Sultan Buton ke-39, meriam bersimbol naga tersebut dibawa leluhurnya Wakaa-kaa dari Tiongkok sekitar 700 tahun silam. Meriam itu masih memiliki peluru dan masih bisa diledakkan.
      Kamali Badia itu sendiri tidak lebih dari rumah konstruksi kayu khas Buton sebagaimana rumah anjungan Sultra di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sesuai tradisi, rumah atau istana Kesultanan Buton harus dibuat keluarga sultan dengan biaya sendiri.
Ada juga istana di kota Baubau. Tetapi istana yang dulu cukup megah, kini tidak terawat lagi. Istana itu di awal kemerdekaan dipinjamkan untuk sekolah AMS (Amtenaar Middlebare School), lalu menjadi kampus Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan). Sesuai dengan fungsinya tersebut, maka Kamali Baubau disebut Istana Ilmiah. “Istana itu dibangun tahun 1922 dengan bantuan Belanda. Karena itu para sultan tak mau berdiam di situ,” ujar Manarfa.
      Obyek lain yang tak kalah menariknya adalah benteng keraton sendiri. Benteng Keraton Buton yang aslinya disebut Keraton Wolio dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton VI (1632-1645), bernama Gafurul Wadudu. Benteng ini berbentuk huruf dhal dalam alpabet Arab yang diambil dari huruf terakhir nama Nabi Muhammad saw.
      Panjang keliling benteng tersebut 3 kilometer dengan tinggi rata-rata 4 meter dan lebar (tebal) 2 meter. Bangunannya terdiri atas susunan batu gunung bercampur kapur dengan bahan perekat dari agar-agar, sejenis rumput laut. Luas seluruh kompleks keraton yang dikitari benteng meliputi 401.911 meter persegi.
      Benteng Keraton Wolio memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga (bastion). Tiap pintu gerbang (lawa) dan bastion dikawal empat sampai enam meriam. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri.
      Keberadaan benteng tersebut membawa pengaruh hebat bagi eksistensi Kerajaan Islam Buton. Kesultanan ini mampu bertahan selama kurang lebih empat abad, tidak termasuk masa pemerintahan raja-raja non-Islam selama kurang lebih dua abad sebelumnya.
Bahkan benteng itu menjadi sumber motivasi dan semangat bagi generasi sekarang. Gubernur Kaimoeddin selalu mengajak kepada aparatnya untuk mencontoh etos kerja di zaman dulu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

      Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulannya bahwa:
Peradaban kebudayaan suku Buton ini sangat kaya dengan adat istiadat, sejarah yang panjang yang banyak memperjelas pengetahuan akan suku Buton ini sendiri, Suku Buton adalah suku pelaut, Seperti suku-suku kebanyakan di Sulawesi. Sejak lama orang-orang Buton merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu yang dari berukuran kecil dan hanya dapat memuat lima orang, hingga perahu besar.

B. Saran

      setiap warga Negara Indonesia masih sangat kurang akan pengetahuan mengenai kebudayaan adat yang ada di Indonesia ini, termasuk budaya adat istiadat suku Buton ini, karna oleh kelengahan kita sebagai warga Negara Indonesia menjaga kebudayaan budaya kita dengan mudah di klaim negara lain. Untuk itu diharapkan kepada warga Negara Indonesia dapat melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia ini, dan selalu menjaga nya agar tidak diklaim Negara lain, cintailah budaya Indonesia.

















Daftar Pustaka

http://fatawisata.com/sulawesi-tenggara/1236-kabupaten-buton-
http://liburan.info/content/view/580/43/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar